2025 adalah tahun yang menarik buat gw, karena gw tahun ini adalah tahun dimana gw harus melakukan refleksi, menata ulang karir dan hidup.
Kilas balik ke 2024, gw personally merasa adalah salah satu tahun yang paling berat, terutama professionally. Di tahun ini gw harus let go salah satu produk yang gw (dan teman-teman) build selama lebih dari 10 tahun.
Sebagai sebuah produk, kami sudah menyadari jauh sebelumnya bahwa tantangan untuk “membangkitkannya” sangat besar. Peta persaingan marketplace yang ketat dan unit economics yang tidak ideal mendorong kami untuk tidak lagi mengelola produk tersebut.
Sedih? Jelas.
Membangun sebuah produk selama lebih dari 1 dekade membuatnya menjadi bagian dari kehidupan gw. It’s even longer (at that time) than my marriage, haha.
So setelah pada akhir 2024 dia (si produk maksudnya) nggak lagi jadi bagian dari gw, memasuki tahun 2025 kemarin memberikan sebuah pengalaman baru.
Ketidakpastian.
Kegundahan paling besar adalah keraguan akan kemampuan gw sendiri sebagai seorang pebisnis ataupun profesional.
Gw merasa kecewa dengan diri sendiri, dan merasa sudah mengecewakan banyak orang yang sudah percaya kepada gw melalui produk tersebut. Cukup banyak tim saat itu yang sudah bersama-sama membangun dari awal, dari 0 banget, waktu kami cuma punya sebuah MVP yang dibuat over the weekend, for the sake of meeting with potential investors.
Gw merasa tim gw jadi menghabiskan waktu, tenaga dan karir mereka membangun sesuatu yang ujungnya harus berakhir juga, tanpa memberi imbal balik yang cukup.
Waktu Aria wafat, gw sempat berpikir bahwa produk ini adalah salah satu legacy-nya yang pingin kami jaga bersama. Tapi, kenyataan berkata lain.
Ketidakpastian ini tentu saja tidak nyaman. Ketidakpastian identitas, finansial dan rencana masa depan benar-benar terasa mengganggu.
Apakah berarti selama ini gw berada dalam comfort zone? Mungkin juga.
Ketidakpastian ini yang akhirnya mendorong gw untuk berpikir ulang, “Sebenernya apa yang bisa gw lakukan, yang bisa memberi manfaat buat orang lain?”
Mencari jawabannya nggak mudah. Sampai sekarang gw juga masih mencari dan memvalidasi-nya, dengan mencoba memperluas sudut pandang dan belajar hal-hal baru.
Gw coba bergabung dan belajar bersama di komunitas-komunitas baru.
Gw coba ngobrol dengan orang-orang yang bekerja di lintas bidang selain teknologi.
Gw mulai mencoba berbagi pengalaman dan membantu orang lain dalam mengembangkan produk dan bisnisnya, walaupun kadang tetap berkutat dengan keraguan atas kapabilitas diri sendiri.
Tapi menariknya, gw bertemu dengan orang-orang yang ternyata bisa mengapresiasi gw. Apa yang gw anggap sebagai “kegagalan”, diterima mereka sebagai “pengalaman”. Hal ini sedikit banyak membantu proses refleksi gw, untuk menerima diri sendiri.
Menulis ini pun gw anggap sebagai bagian dari proses refleksi, yang semoga bisa membantu menjawab hal itu.
Sampai hampir di penghujung tahun 2025 ini, dengan segala ketidakpastian ini, gw merasa bersyukur (banget) punya keluarga yang mampu mengerti, menerima, dan mendukung gw dalam melewati masa-masa ini.
Moral of the story? Entahlah.
Menulis ini tanpa planning, hanya tiba-tiba terpikir untuk menuangkan unek-unek dalam kata-kata. Tapi semoga kalau ada teman-teman yang saat ini sedang berada dalam ketidakpastian, bisa memberi sedikit inspirasi untuk tetap mencoba melakukan sesuatu. Berkomunikasi dengan diri sendiri, orang lain, dengan Yang Maha Kuasa, mungkin setiap orang akan menemukan jalannya masing-masing.

Leave a Reply