Bagaimana Kalau Ojek Online Memberikan Layanan Pesan di Tempat?

Pernah nggak mengalami kejadian dimana Anda memesan ojek online, tetapi memperoleh pengemudi yang lokasinya lumayan jauh, padahal di seberang jalan berjejer pengemudi ojek online dari aplikasi tersebut sedang mangkal? Belum lagi kalau si pengemudi ternyata bukan berasal dari sekitaran daerah tempat pickup, dan berakhir dengan menunggu lama karena dia nyasar. Mangkel, kan?

Kadang-kadang jadi kepikiran, gimana kalau aplikasi-aplikasi ojek online yang sering saya pakai, sebut saja Gojek, Uber dan Grab (mungkin nama sebenarnya), juga menyediakan layanan untuk pesan langsung di tempat ya?

Bagaimana mekanismenya?

Sekilas dalam bayangan sih, harusnya bisa dibuat cukup sederhana. Secara alur setidaknya. Kalau implementasi teknologinya, entahlah. 😀

1. Pairing menggunakan Bluetooth

Sesederhana(?) proses pairing saat kita hendak menghubungkan 2 piranti menggunakan Bluetooth. Pada saat mau melakukan pemesanan, pengguna menghampiri mas/mbak pengemudinya, menyalakan Bluetooth dan mendeteksi aplikasi si pengemudi. Setelah koneksi tersambung, akan terjadi pertukaran data secara otomatis yang mengkonfirmasi order tersebut.

Keuntungan? Konektivitas Bluetooth memiliki jangkauan sekitar 10 meter (CMIIW, spesifikasinya harusnya bisa sampai 100m, tapi personally saya hampir nggak pernah mendetect piranti lain dengan bluetooth di jarak lebih dari 5-10m), jadi ada faktor keamanan yang menjaga bahwa pemesan dan pengemudi benar berada dalam 1 daerah.

Kerugian? Ribet. Kayanya lumayan merubah flow pemesanan yang umum ada di aplikasi-aplikasi tersebut, bisa jadi si calon penumpang akan malas duluan. Mungkin ada juga isu keamanan, dimana dengan mengaktifkan Bluetooth pada perangkat genggam, membuat perangkat tersebut dapat ditemukan oleh orang lain yang bisa saja memiliki niatan buruk. Eh tapi ingat, kita tidak boleh berprasangka buruk, lho!

2. Menggunakan Kode Pemesanan Unik

Jadi setelah pengguna menghampiri pengemudi, pengguna (well, dibalik juga bisa sih) akan mengenerate kode khusus (sebut saja booking code) yang harus dimasukkan oleh si pengemudi di aplikasinya. Penyampaiannya? Ya dengan mulut si pengguna atau menunjukkan kode tersebut kepada si pengemudi.

Keuntungan? Simple. Prosesnya sangat jelas dan mudah. Tidak perlu menggunakan teknologi khusus, selama ada akses Internet, yang mana toh juga merupakan prasyarat kita dapat menggunakan aplikasi-aplikasi tersebut.

Kerugian? Karena pertukaran kode tidak ada limitasi jangkauan area, alias bisa saja seseorang membagi booking code-nya ke driver temannya yang jaraknya 14.7 Km jauhnya. Hal ini tentu membuatnya cukup rentan terhadap order fiktif. Kecuali ada penambahan fitur misalnya pengecekan lokasi, dengan GPS, dimana ada pembatasan minimal jarak 3 meter antara calon penumpang dengan pengemudi. Tapi apakah pemetaan lokasi di masing-masing ponsel pasti seakurat itu?

Kira-kira itu mungkin sekelebat ide yang terlintas selagi menunggu hujan reda. Karena kalau hujan nggak reda, sekalipun bisa pesan di tempat, males aja kehujanan duluan (dan di jalan!).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *