Belajar Menggunakan Penamaan yang Baik dalam Menjalankan Facebook Ads

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Mungkin hampir tidak ada orang yang serta merta langsung mahir dalam melakukan suatu hal, tidak terkecuali dalam hal menjalankan Facebook Advertising. Best practice umumnya didapat dari repetisi, proses trial and error, dan pengorbanan alokasi budget iklan yang dilakukan oleh seorang pemasar atau business owner. 

Setelah beberapa waktu menjalankan pemasaran menggunakan platform Facebook Ads, 1 hal yang saya pelajari adalah, menggunakan standar penamaan yang baik untuk Campaign, Ad Sets, dan Ads ternyata memberikan banyak manfaat bagi saya. Mengapa demikian?

Pada awalnya, saya juga tidak terlalu peduli dengan standar penamaan bagian-bagian dari iklan yang saya jalankan. Apalagi karena masih canggung dengan fitur-fiturnya pada waktu itu, yang ada di bayangan saya adalah, “Yang penting cepat selesai, dan iklan segera tayang!”, maka muncullah nama-nama seperti:

  • “Campaign Sale”, “Campaign Jualan Kaos”, etc
  • “Ad Set 1”, “Ad Set 2”, dst sampai “Ad Set 33”.
  • Memberi nama Ads dengan URL tujuan, yang terkadang menggunakan layanan pemendek URL seperti Bit.ly

Apa yang terjadi? Penamaan itu tidak memberikan saya informasi mengenai iklan yang saya jalankan.

Hal ini menjadi masalah pada saat saya ingin mencoba melakukan evaluasi atas iklan-iklan tersebut:

  1. Saya membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan informasi dari iklan-iklan tersebut. Saat saya melihat “Campaign Sale”, saya tidak tahu konteks dari Sale tersebut, apakah itu untuk produk tertentu, atau untuk mendorong Sale berbasis waktu, atau lainnya. Apalagi yang hanya menggunakan angka, seperti judul-judul Ad Set di atas. Untuk mengetahui audience yang saya sasar di sana, saya harus masuk ke masing-masing Ad Set untuk melihat informasi targeting-nya. Semakin lama waktu yang dibutuhkan oleh kita untuk menggali informasi, niscaya kemalasan akan semakin mudah melanda. Akibatnya, kita dapat terdorong untuk mengambil keputusan tanpa didukung analisa yang cukup, tetapi hanya karena tidak ingin (atau tidak mau) ‘membuang’ waktu terlalu lama.
  2. Pada saat kita bekerja dalam tim, ketiadaan standar yang baik akan menyulitkan kerjasama. Proses supervisi dan kolaborasi akan lebih susah dilakukan, karena ketiadaan pakem yang disepakati bersama oleh seluruh anggota tim. Bukan saja menyita waktu, tetapi bisa juga mengganggu komunikasi yang menyebabkan suasana kerja kurang kondusif.

Perlahan-lahan saya mulai belajar untuk mencoba menggunakan standard yang bersifat lebih deskriptif. Ternyata manfaatnya lumayan terasa.

  1. Waktu yang dibutuhkan untuk menganalisis iklan lebih singkat. Penamaan yang baik memudahkan saya untuk memperoleh gambaran tentang kondisi iklan yang sedang tayang dengan lebih singkat, sehingga ada lebih banyak waktu untuk berdiskusi atau memikirkan solusi yang harus dilakukan. Saya percaya kadang angka-angka yang tertera di tabel statistik iklan belum tentu memberikan keseluruhan jawaban yang kita inginkan.Misalnya, iklan yang menawarkan potongan harga terbatas (limited time sale) mungkin saat dijalankan pertama kali memberikan hasil yang kurang baik. Kita bisa saja langsung mengambil langkah mematikan iklan tersebut dan menguburnya. Tetapi bukan tidak mungkin ternyata iklan itu dapat bekerja dengan baik apabila diluncurkan di waktu atau kepada target yang berbeda. Bagaimana kita memutuskan hal tersebut membutuhkan analisis, dan saya merasa lebih baik menghabiskan waktu untuk melakukannya daripada mencoba menarik data dengan klik sana-sini, apalagi dengan koneksi internet yang semenjana.
  2. Saya bisa membuat (dan menyimpan) aturan Filter sesuai dengan kebutuhan. Percayalah, hal ini akan sangat membantu, terlebih bila kita menjalankan banyak Campaign sekaligus. Display filter sebenarnya konsepnya sederhana, yaitu menyaring data yang akan ditampilkan sesuai dengan aturan yang kita buat. Contohnya, kita bisa memilih Filter untuk menampilkan hanya Campaign yang sedang dalam proses review. Facebook memberikan kemampuan filter dengan berbagai parameter, termasuk berdasarkan delivery, objective, placement, dan lain sebagainya.Kita bisa meningkatkan efisiensi menggunakan filter ini lebih jauh lagi, dengan memasukkan parameter terkait konten dan targeting di sana. Misalnya, dengan menggunakan standar penamaan yang mengikutsertakan target audience di nama Campaign, seperti “Men” atau “Women”, kita bisa dengan cepat menyaring data untuk melihat performa iklan-iklan yang ditujukan ke audience laki-laki dan perempuan.

Bagaimana standar penamaan yang saya gunakan?

Saya akan coba sharing cara penamaan yang saya gunakan. Mohon menjadi perhatian, bahwa setiap orang bisa jadi memiliki best practice standar penamaan sendiri-sendiri. Tidak ada benar-salah disini, karena setiap bisnis, dan pemasar iklannya, memiliki kebutuhan yang berbeda-beda.

Berikut saya share elemen-elemen yang ada dalam penamaan Campaign iklan yang saya lakukan:

Platform Iklan

Karena platform iklan yang saya gunakan tidak hanya 1, tetapi juga ada Google dan Twitter, saya selalu memasukkan platform iklan tersebut di paling depan. Hal ini untuk memudahkan saat kita perlu membuat consolidated report nantinya (saya pakai Excel, dan ya, penamaan juga membantu dalam membuat formula dan filtering di Excel). Misalnya, saya menggunakan [FB] untuk Facebook, [GG] untuk Google (bukan GA untuk Adwords karena termin GA saya lebih familiar untuk Google Analytics), dan [TW] untuk Twitter.

Tujuan dasar beriklan

Secara umum saya hampir selalu, minimal, menjalankan 2 jenis campaign yang berbeda. Discovery campaign, dengan kode [DIS], saya gunakan untuk menyasar target audience baru. Sementara Remarketing campaign, dengan kode [RMK], saya gunakan untuk meng-engage kembali audience yang sudah pernah bersentuhan dengan bisnis saya, baik itu pengunjung situs, fans FB Fan Page, orang-orang yang sudah pernah menonton video yang saya share, dan lain sebagainya.

Varian Produk atau Business Unit

Ini mungkin spesifik untuk bisnis yang saya iklankan. Kebetulan ada beberapa produk/business unit yang dikelola, sehingga saya merasa lebih nyaman kalau saya bisa memilah produk-produk tersebut dengan cepat saat melihat laporan. Untuk Business Unit sendiri, pada akhirnya saya membuat Ad Account tersendiri, dengan pertimbangan pengelolaan audience yang berbeda karena target market dan arah komunikasi antar lini bisnis tersebut semakin berbeda. Dalam kasus saya, pemilahan di standar penamaan ini dibagi menjadi Retail (untuk produk-produk dalam marketplace), Custom (untuk personalized gift dan custom merchandise) dan IP Products seperti Pokemon XY dan Star Wars.

Informasi Target Audience

Kenapa detail ini saya masukkan di nama Campaign? Utamanya adalah untuk memudahkan pembacaan informasi untuk Remarketing Campaign, karena umumnya campaign remarketing yang saya lakukan disesuaikan dengan alur tindakan pengunjung di situs. Dengan memasukkan informasi Audience yang disasar di campaign, saya bisa lebih cepat melihat efektivitas pengiklanan di setiap langkah pada customer funnel saya.

Di luar elemen-elemen di atas, terkadang ada 1-2 informasi lain yang saya masukkan juga sesuai dengan kebutuhan. Misal saat saya merasa sudah perlu me-refresh sebuah campaign, dengan pendekatan yang sama dan hanya mengganti kontennya, mungkin saya menambahkan keterangan seperti ‘relaunch’ atau nomor iterasinya seperti ‘v2’. 

Mengatur Filter untuk Membaca Penamaan Iklan

Contohnya seperti berikut.

Sample filter ads
Contoh Filter yang sudah disimpan

Dengan filter seperti demikian, saya dapat dengan mudah memilah dan melihat performa dari Campaign Discovery dan Campaign Remarketing saya. Ini mempersingkat waktu karena saya perlu melihat rekapitulasi data (bagian bawah tabel data iklan) dengan konten yang sudah terfilter, dimana dari sana saya bisa melihat hal-hal seperti total alokasi budget, CAC, dan lain-lain, dan dapat dengan mudah mencocokkannya dengan standar acuan yang diterapkan di bisnis saya.

Mungkin demikian sedikit informasi yang bisa saya share. Sekali lagi, setiap pemasar pasti memiliki standar dan best practice yang berbeda. Saya akan sangat senang kalau ada rekan yang bersedia berbagi pengalaman dan tipsnya mengenai penamaan iklan di Facebook Ads.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *